Bojonegoro I skinfosuneta.com,- DI Awal perjalanan hidup Sosok Figur Publik orang nomor 2 di kecamatan Trucuk, ternyata memiliki cerita unik dan menarik, dan juga layak di teladani.
Berikut ceritanya, yang sempat di catat oleh tim kreatif skinfosuneta.com. Tentang liku liku perjalanan hingga sekarang menjadi Sekcam Trucuk.
Berikut rinciannya, diantaranya:
Nama lengkap H. Muhammad Munif, S.Sos. merupakan putra ke 7 dari 8 bersaudara, dari Pasangan Yth. Mbah Kung Kandar Sastro Dikromo (Kepala Desa Tanggir kecamatan Singgahan Tuban) dengan ibu Warni.
Pak Munif, (sapaan akrab Sekcam Trucuk), pada awalnya tidak mau daftar sebagai Pegawai Negeri. Meskipun semua saudara pegawai negeri atau suami pegawai negeri. Gus ‘Munif’ muda, dari SMP bergaul nya akrab dengan semua kalangan meskipun putra Kepala Desa. Tetapi bergaulnya dengan para tetangga, konco tak mengenal usia , termasuk dengan para pebisnis kayu jati.
Meskipun pohon masih berbentuk ‘tegak’an’ sudah bisa mengira -ira, berapa volume nya, dengan sebutan ‘ontrek’. Sehingga lulus SMP sudah berani bergadang kayu jati di TPK Ngogro KPH Parengan.”Wes raukur..hehehe”., plus sambil bertani.
Hingga lulus SMA. Sehingga meskipun baru Lulus SMP sudah berani berdagang Level menengah ke-atas.
Tetapi ketika lulus SMA Tahun 1989, dangang kayu dan bertani di tinggalkan. Lulus SMA Merantau ke Surabaya, dan sengaja mencoba dengan tantangan penuh peluh keringat. Yakni sebagai kuli Bangunan.
Dari pengalaman sebagai kuli, itu adalah edukasi untuk memupuk pribadi dan merasakan bagaimana beratnya menjadi kuli bangunan.
“Prestise bahwa saya sebagai anak kepala Desa, saya punya uang yang cukup, tetapi bagi saya, sekolah dari pengalaman itu amat sangat mahal. Dan bisa di beli dengan rupiah, mas”, kenangnya Abbah H. Munif.
“Sepulang dari merantau, saya mendirikan perusahaan meubel kayu jati dan berdagang kayu jati. Dan meskipun usia semakin bertambah, tetapi tetep belum ada ‘ngrenjet’ ingin seperti saudaranya yang Pegawai semuanya.” Pokoknya kesannya mbalelo”. Hehehe.. hehe.
Tetapi suatu hari, sang Bapak, Dawuh “Suk nak getun tiba mburi, lho. Mumpung masih muda dan berkesempatan”.
Dari situlah, terbuka pintu hati saya. Tetapi saya tetep tidak mengurangi bergaul dengan teman biasa, teman bisnis maupun bisnis tetep berlanjut hingga sekarang (24/4/2025).
Maka tahun 1993 awal di Pemda, April 1993 sebagai Capeg. Tahun 1994 PNS Penuh sebagai staf kesra kecamatan Kapas.
Tahun 1996 masuk staf PMD. Tahun 1999 sebagai staf Sat-Pol kecamatan Kapas.
Tahun 2001-2004 sebagai staf Pemerintahan Kapas.
2004-2019 staf PMD. Bulan September 2019 kasub. OKK kecamatan kota.
Tahun 2020 bulan Desember, PJ. Kepala Kelurahan Karang Pacar.
Bulan Februari 2020 Difinitif Kepala Kelurahan Karang Pacar.
Februari 2022 diangkat sebagai Sekcam Sukosewu.
Maret 2024 di pindah tugaskan sebagai Sekcam Trucuk.
“Untuk Perihal Keluarga
Sudah merasa usia cukup, ada adiknya teman Sekolah, saya lirik. Dan adiknya teman saya tersebut akan masuk SMA, saya minta dan saya nikah, tahun 1992. Dan di karuniai 2 putra yakni:
1. Miftahul Nur Afian (Berdinas di Dinas Lingkungan Hidup/DLH kabupaten Bojonegoro).
2. M.Farid Ikhsan, sebagai TNI.
“Meskipun pada masa muda, bisa terbilang rada ‘mbalelo, tetapi bertanggung jawab pada keluarga, termasuk nama baik keluarga.
Dengan prinsip, berbuat baik kepada sesama teman, bila ada masalah diselesaikan bersama dengan kepala dingin. Agar bisa ketemu solusi yang terbaik. “Bekerja jangan merugikan orang lain,baik sesama teman maupun pada pimpinan. “Tawadhu dan loyalitas pada pimpinan”. Itulah amanah yang di tanamkan oleh orang tua.
Dan bergaul, sesama teman sepermainan, teman Se-kantor, sesama PNS, sesama bisnis bahkan sama anak muda. Kita bisa berupaya bergaul dengan baik. Apa yang dibicarakan kita terima, kita tampung, dan jadi tambahan bekal untuk cara cara bermasyarakat. Karena lain zaman juga lain cara bahasa pergaulan. Hehehe. Yang penting jangan karena takut di katakan ketinggalan zaman, lalu ikut-ikutan. Tetapi harus punya filter. Seperti yang kami sampaikan pada anak anak saya., boleh berteman tetapi harus punya filter. Demikian”. Ungkapan nya pak Sekcam, Abbah H.Munif.
“Kalau soal ke kantor dengan pickup, itu, yang penting yang lain nyampe, kami juga nyampe. Meskipun ada beberapa station, yaa suka suka saya sajalah. Hehehe…
Dulu anak saya di tempat jauh, sampai saya bawa-i “Moge”, tetapi kog kelihatannya prestasi menurun dan saya tidak bisa mengawasi. Akhirnya tetap di sekolah yang bisa saya awasi. Yang penting niat nya Sekolah, adalah mau belajar.
Alhamdulillah.. Lolos dan Lulus semua. Begitulah, selayang pandang perjalanan kami.
Pada prinsipnya adalah,”Saya tidak ingin menyakiti orang lain, dan saya tidak ingin merugikan orang lain. Dan tetap menjalin Silaturahmi pada sesama dan staf, serta loyalitas pada pimpinan. Maka setiap diarahkan/di utus oleh pak Camat, selalu Siap. Dan tidak perlu bertanya, atau Alasan yang intinya sebagai alasan untuk menolak cara halus, Ok…?!”. ulasannya Abbah H.Muhammad Munif, S.Sos. Dengan persiapan mewakili Pak Camat nya Drs.H.Saad Mujadid,M.Ap. Juga masih posisi Rapat.**(Eko P.-Zulf/red).






