Bojonegoro I skinfosuneta.com,-DORONGAN Masyarakat dan permintaan untuk di jadikan sebagai pemimpin di desa Sumberagung kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.
Sosok Putoyo menjadi pemimpin Desa ini, adalah dengan pertaruhan kredibilitas yang sangat Mahal, karena masih ‘meger-meger’ sebagai Tentara Nasional Indonesia (TNI), aktif. Di minta warga desa Sumberagung, untuk memimpin. Sedangkan sudah ada yang bakal calon yang lain yang siap mendaftar.”Ini tidak kaleng-kaleng pak Putoyo, pokoknya pak Putoyo harus ikut daftar”, kenang-nya.
“Saya ini masih aktif, Tentara lho kang. Mbok anggep gampang po piye ?”. Jawab nya Pak Putoyo waktu itu.
“Wis to pak, dadi dadi. Pokoke di jamin akeh sing seneng panjenengan, kudu mboh piye carane, pak Putoyo Babinsa, kudu melok”, pinta Warga yang mendukung.
Kepanikan sempat menghinggapi yang identik Simalakama. Gak diladeni, kog jane kelihatannya kog ya banyak yang mengharapkan. Jika di ladeni.. seumpama tidak berhasil terus bagaimana. Karena Jika sudah resmi menjadi calon kepala desa, bukan cuti. Tetapi harus menanggung sebagai pensiunan dini. Dan setelah kadung mundur dari kedinasan, tidak lagi orang orang memanggilnya ‘pak Putoyo’ Babinsa. Tetapi BABINSA ‘keok’. Lain kalau memang sudah pensiunan tidak terlalu rumit ijin.”Jaaan…berat, nuruti karepe warga, lagi pula sudah banyak musuh Politik, alias wes nyrangap senadjan ada pak Putoyo BABINSA.. hahaha..
Saya (Putoyo-red), di luruk untuk ikut daftar, dengan batas waktu pendaftaran tinggal seminggu. Apa ngga’ budrek, piye to kiih.?” Kenang-nya.
“Pripun pak Put ?. Mosok mpun mboten wonten kawelasan untuk memimpin warga yang lebih banyak akan memilih Panjenengan, Pak Put”. Desakan warga meskipun tidak semuanya.
Meskipun demikian, faktor ‘x’ juga jadi bahan pertimbangan tambahan, karena jumlah KK masih diatas 2 ribu.
“Siap mengundurkan diri/mengajukan pensiun. Siap tertatih-waktu tinggal seminggu, untuk mengurus ijin. Persiapan finansial senadjan seteguk air putih pun juga tidak ada.
Sedangkan keluarga termasuk anak anak masih kecil kecil. Pokoknya berkecamuk di sekujur tubuh. “Yaa Allah.. Bagaimana Saya ini Yaa Allah ?”.
“Sedangkan yang sebagai pegiat agar saya mencalonkan sebagai Cakades, jrabing tidak mau pulang dari rumah saya. Terus piye Iki. Hingga sampai saya harus dan akhirnya mengatakan ‘Yaa”.
Setelah saya mengatakan “Yaa”, riuh riang.
Saiki terus piye ?”, balik bertanya.
“Monggo akan ngurus keperluan ijin, surat surat, sopir, kendaraan, solar..wes di cawisi. Soal logistik untuk ngopi warga yang datang silaturahmi, sudah siap”, kenang Pak Putoyo.
Ternyata beneran, dukungan moril dan materiil tidak ‘kw-kw’. Apalagi, menjelang hari “H”, Beras, kelapa, Gula, kopi, rokok…Full. apalagi kayu bakar untuk memasak dikirim menggunakan sepeda motor ada 39 rit kiriman dari warga desa Ngunut 39 rit. Karena sebelumnya juga pernah menjadi BABINSA desa Ngunut.
Namun toh demikian, Sosok Putoyo, Sabar, Santun, Namun bertanggung jawab. Begitu anyar-anyaran jadi kades, yang meneruskan menjalankan program Kades lama (Alm. Mbah Kung H. Abdul Manan-red), dilalah ada yang ngrasani “kene kog ra di katutno didandani”.
Awalnya di temui baik baik,”Sepurane tenan iki mung nerusno program thok lagek’an. Mosok di Lantik lagek tangdino terus mrogram.. hehehehe. Yo ora to Lek”, di sampaikan dengan suasana canda untuk terbangun keakraban. Sebab ketika jadi BABINSA selalu ramah lingkungan.
Lha kok, tidak dengan waktu yang lama, di rasani dengan topik yang sama dengan orang yang sama. Yaa muncul darah muda, hehehehe..
“Wes ngene ae, awakmu tak ajeni, tak kandani kog pancet ae omonganmu, piye.. umpomo ‘Gelut’ ae.
Hhhhhhhh…jegeg aku.”kenangnya.
Dan karena desa Sumberagung dengan luas wilayah, panjangnya jalan poros desa kisaran total 14 KM, secara bertahap pun mulai bisa di rasakan, meskipun untuk tahun ini baru akan lagi, karena ajuan tahun 2024 di hapus. Alhamdulillah, akan segera lagi ‘ngecor’ jalan.
Namun toh demikian, srimpetan pun terkadang masih ada, dengan mengatasnamakan orang lugu, yang gaptek HP di pakai untuk ngabari orang yang hobby untuk cari cari kekurangan.
Itupun kami jadikan cambuk sebagai kepala desa, untuk mawas diri untuk filter kemajuan. Dan setiap yang datang dengan menyampaikan untuk hal kontrol kondisi, Alhamdulillah. Mereka yang bawa kabar, pasti mengaku.
Meskipun demikian, saya ucapkan terima kasih.
Soalnya Putoyo senadjan masih muda, putri yang besar baru kelas 2 SMA, tetapi Putoyo sebagai Bapak nya orang sak desa Sumberagung yang warganya, kisaran 7.000 an warga, memangnya Pak Kades ‘PUTOYO’. Ulasan kades Sumberagung, yang selalu ramah, yang rumahnya di model Klasik seperti era Brawijaya.
Sebab Beliau sebelum jadi kades juga sebagai Prajurit KODAM V BRAWIJAYA, dinas di koramil Dander.**(Eko P.- Zulf/red).






