Bojonegoro I skinfosuneta.com,-BERBEKAL itu normatif saja di rasa cukup. Itulah rasa sadar yang di dalami oleh KRPH Wadang BKPH Tengger KPH Bojonegoro DIVRE JATIM, Sunarto & Polhut nya Marjuki. Sementara Mandor Nurchozin sesekali bersama untuk bertiga dalam melaksanakan tugas. Namun Mandor Nurchozin di perbantukan pada Tugas khusus oleh Asper BKPH Tengger H.Budi Eko P.
Menurut warga di lingkungan wilayah, menuturkan bahwa, “Petugas Perhutani di Kemantren Wadang. Itu menanamkan nilai-nilai budaya ‘Ngarso Sun Tulada’. Sehingga sikap ‘grapyak-semanak-nguwongke uwong’ itulah. Sehingga ibaratnya , tinggal kalimat ‘Nggeh Pak Mantri.
Demikian pula si pak Polhut nya yakni Pak Marjuki, gesit dan juga nyedulur dalam berkomunikasi. Kalau si mas Nurchozin, malah tetangga wadang. Sehingga ya itu tadi..tumbuh rasa sungkan. Bukan dari rasa takut. Tapi rasa sungkan. Karena bertiga di wilayah RPH Wadang tidak ada Rekam Jejak yang terkesan ‘marah-marahi (mengajari)’ hal hal yang tidak pantas untuk di tiru, yang jadi pemicu. Namun, perihal tugas selain bertindak sebagai petugas, bermasyarakat nya pun. Good. Disitulah tidak ada yang ‘cendolo’. Karena petugas nya, ora ngawati hal yang kurang bagus.”Cerita warga.
Ada lagi yang aneh lagi. “Pak Marjuki, kelihatannya masuk hutan Weeer ngidul..lha tahu tahu sudah dari utara lagi”, ucap warga yang tidak mau di sebut namanya.
KRPH Wadang, Sunarto, mengatankan: “Lha pokoknya, ya.. ngempyangi bila ada warga yang sedang ngopi kita ikut nimbrung, meskipun sebentar. Ada giat kataman/Tahtimul Qur’an, kami ikut juga. begitulah. Aktif patroli preventif dan juga komsos tetep separuh waktu. Menanam rasa asih & asuh pada LMDH maupun yang non LMDH. Dan jika ada yang mau nakal atau berbenturan dengan tugas pokok, ya tetep kami laksanakan sesuai prosedur. Demikian. Selamat sebab ada waktu komsos dan ada tugas utama sebagai Rimbawan. Demikian. Dan kami selalu koordinasi dengan pihak stikholder, disamping melakukan komsos. Begitulah”.
Selanjutnya Polhut RPH Wadang BKPH Tengger, Marjuki, yang di kenal Polhut Gesit. Menceritakan bahwa Awal masuk bertugas di RPH Wadang, waktu itu belum ada KRPH nya selama 5 bulan, masih di bawah komando Asper. Sehingga sering berdua dengan Mas Nurchozin saja, siang malam. Pokonya ya pulang sebentar bila keperluan suuuuuangat penting. Bahkan hari ibupun jarang hadir..he..he.. Karena demi Tugas dan konsekwensinya sebagai Rimbawan di bidang keamanan. Tetapi juga dilakukan oleh Mas Nurchozin juga sama. Bedanya kadang masih bisa pulang di rumah. Lha kami, yo tidur ngglinting di RD KRPH.
(Semoga keturutan benar benar dapat RD KRPH. saya do’a kan, nDAN Juk”, do’a penulis).
“Memang kami punya strategi yang berani resiko. Yakni karena rasa tanggung jawab, tadi. Setelah orientasi wilayah, lalu meng-input siapa yang tergolong catatan nakal. Siapa diantara mereka tersebut yang sebagai ketua nya. Itu adalah target yang harus jadi atensi.
Namun jika mempelajari..jika harus yang Level anak buah di jadikan atensi yang benar benar di tangani. Ya kami lakukan demikian. Kami menyesuaikan iklim yang harus kami laksanakan dalam melaksanakan tugas yang di amanahkan oleh Pimpinan”.
“Jangan enggan melaksanakan tugas, jika di perintahkan oleh pimpinan. Serta jangan mengeluh sedikitpun jika awak(Badan) masih bisa nelan makanan dan minum. Karena tugas dan konsekwensinya sebagai Rimbawan. Yang menjadi kebanggaan keluarga, kami sebagai Rimbawan. Itulah prinsip, yang yang pokok, ojo nganti jadi pagar makan tanaman. Wes ngono ae mas..ni patroli aja juga sambil menghimpun informasi dari spionase. Tidak harus jam sekian. Tetapi harus bisa memantau sikon yang berlaku, perihal waktu “.**(Eko-Zulf/red).






