Saya FORSA Belajar Dari Amanah Al-Mukharram Romo Kyai Rhoma Irama.

Img 20251009 wa0000

Oleh : Ekopurnomo (Bag:2).

Bojonegoro I skinfosuneta.com,-SEBAGAI FORSA (Fans Of Rhoma Irama and SONETA).

Bacaan Lainnya

…….. Sambungan..Dan berujung merugikan orang lain.
Hal tersebut jangan sampai hal terjadi.

Beliau berpesan (Ber-amanah), bahwa “Kebaikan perlu selalu diserukan.
Karena masih banyak diantara kita untuk diajak sadar.Sadar dan ingat pada kewajiban kita, sebagai insan yang tiada daya , tanpa kehendak Tuhan (Allah,SWT.)

Kata Beliau,” Kalau kemunkaran tetap di biarkan, maka tunggu saja saat nya datang suatu.
Dan munculnya berbagai bencana alam telah pernah di turunkan oleh -NYA. Hendaknya ini di jadikan sebagai peringatan.
Memang sepanjang sejarah kehidupan manusia, perihal kemunkaran tidak akan sirna. Karena sang pengajak (Syaithon-red), tidak Sirna, sebelum kiamat dunia.

Namun…Namun, apalagi kita mau memerangi syaithan tersebut, maka setan pasti kalah.
Bagaimana caranya ?.
Adalah dengan dengan Iman dan Taqwa, serta bersyukur/, mensyukuri atas nikmatullah yang kita terima.

Dengan hati yang jernih, tegarkanlah langkah, dalam segala bentuk ujian atau musibah, mau menerima dengan lapang dada, dengan ucapan “Innalilahi wa Inna ilaihi Raji’un”.
Dengan demikian, Insya Allah, kesunyian jiwa akan teratasi.

Hidup Dengan Santun.
FORSA…..Kereen:
Kata Beliau,”Emas permata itu indah.
Dan Mutiara, juga indah.
Tetapi akhlak mulia itulah hiasan yang terindah.
Pakai baju stelanJas berdasi, gengsi tinggi.
Tapi budi pekerti itulah hiasan yang sejati.

Walaupun yang di pakai serba produk luar negeri.
Tanpa kesopanan, tak menarik hati.
Walaupun yang di pakai serba gemerlapan.
Namun tanpa kesopanan, tak kan menyilaukan.
Bahkan bagaikan masakan yang kurang garam.

NAMUN…Namun, …
Bila pada sesama murah senyum, berperilaku sopan santun.
Meskipun dengan sederhana, Insya Allah.. banyak orang yang suka.

Dipesan pula, untuk di ketahui, bahwa “Hidup di dunia ini, tidak lah sendirian seorang diri.
Kita membutuhkan orang lain/, teman, untuk saling mengisi untuk saling memberi. Meskipun pemberian bukan bentuk riil materi.
Dan jangan merasa diri paling utama, diantara sesama.
Karena sesama manusia itu ada kewajiban untuk saling memberi dan saling menerima. Begitu juga dengan Alam kita juga saling kewajiban.
Yakni menjaga kelestarian alam.

Allah SWT. Telah menurunkan hamba-NYA, di berikan suatu predikat sebagai “Nabi” , Sebagai utusan-NYA , untuk menyampaikan risalah pada seluruh ummat manusia.
Bahkan memberikan kabar tentang alam Baqa (kekal-red), yakni alam/negeri akhirat yakni Syurga atau Neraka.
Tetapi kabar tersebut… telah sampai atau di abaikan.
Karena jaman modern ini, banyak membuat terlena dalam kehidupan nya.
Semoga kita ini tergolong, hamba yang beruntung. Suatu misal meskipun dalam kehidupan sehari-hari kondisi ekonomi tidak sehat.
Tetapi kita menerima dengan sadar, dan selalu iman. Bahwa adanya diri ini, bukti adanya Tuhan.
Adanya Alam juga, bukti adanya Tuhan.
Dan tidak termasuk orang yang punya Akal namun tidak berfikir.
Punya hati tapi tidak merasa.
Punya mata tidak mau melihat.
Punya kuping, tidak mau mendengar.
Bahwa Alam beserta isinya ini adalah ciptaan-NYA.
Lalu tak buta dua mata, namun tiada melihat.
Karena yang buta adalah mata Hatinya.
Yang tuli adalah, karena terbalut sifat angkuh, sombong.

Diingatkan, meskipun seandainya sebagai orang yang di berikan keuntungan (Kaya), dengan pula punya kuasa.
Dipesan tidak usah angkuh sombong pada sesama manusia.

Karena romantika hidup di dunia ini..
Ada miskin ada kaya ada pembeda
Ada suka ada duka silih berganti
Ada tangis ada tawa silih berganti
Begitulah hidup di dunia, fatamorgana dan semua nya pasti binasa.
Kecuali *AMAL*, kebajikan.

Dalam lirik Beliau,”Renungkanlah hei Manusia.
Tugasmu sebagai Hamba.
Jalankan segala titah..
Jauhkan segala dosa.
Dari setitik yang hina kini kau bergaya.
Perintah Tuhan, tak kau hiraukan.
Malah ajakan setan kau turutkan”.
Semoga kita terhindar dari hal yang demikian.
Aamiin.

Untuk keselarasan hidup, pesan Beliau,”Jangan lupa daratan, apa bila dalam kegembiraan.
Dan jangan putus asa apabila di dalam kesedihan.
Sebab…sedih dan gembira tidak akan selamanya.
Semua akan sirna ganti dan berubah.
Karena dua hal tersebut adalah ujian.
Maka untuk saudara saudara yang merasa tergolong kekurangan alias memang tergolong miskin.
Kata Pak Kyai Rhoma Irama,”Yang miskin jangan terlalu sedih, dan jangan menyesali diri.
Karena derajat manusia di sisi Allah SWT. Adalah nilai *TAQWA*.
Dari itu ber-Taqwa-lah meskipun hidup dhuafa.

Pertanyaan nya:
Di dalam kekurangan, nasib di miskin menjalani penderitaan, berimankah dia. Didalam kekurangan .
Mampu kekurangan mampu kah si kaya mengendalikan hawa nafsunya, beriman kah dia di dalam kelebihan.

Untuk semangat menghadapi suatu misal sangat miris, karena cobaan selalu tumpang tindih silih berganti .
Oleh beliau dituangkan sebuah syair,”Tak selamanya langit itu kelam.
Suatu saat pasti terang juga.
Maka hiduplah dengan berjuta harapan, “*Habis gelap, akan terbit terang*”.
…..
Bersambung (Bag:3).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *