Bojonegoro I skinfosuneta.com,-HARI Raya, bagi ummat Islam adalah bagian yang di tunggu tunggu di saat melaksanakan ibadah Puasa.
Baik yang melaksanakannya maupun yang tidak melaksanakan Puasa Ramadhan.
Meskipun Puasa Ramadhan itu bagian dari rukun Islam.
Meskipun demikian, masih ada ummat Islam yang tidak melaksanakan, yang tanpa alasan.Sebagai pendukung yang kuat, adalah mengatakan tidak kuat. Karena beban pekerjaan berat yang intinya untuk mencari ekonomi. Sehingga tidak melaksanakan Puasa.
Ironis memang, tetapi begitu adanya.
Lebaran 1 Syawal dan Selama bulan Syawal, adalah momentum untuk bermaaf-maafan.
Bukankah Ramadhan 10 hari terakhir, mulai lah ada yang bangkit untuk mencari sedekah, Infaq, Zakat.
Dan juga ada pula yang mengeluarkan Sedekah, Infaq, Zakat. Di 10 hari terakhir hingga menjelang Sholat iedul Fitri.
Dalam lirik lagu nya Al-mukharam Bapak kyai Rhoma Irama, di rillis. “Di hari raya miskin dan kaya, semua sama gembira.
Zakat fitrah dan Zakat Harta, yang mempersatukan kita”.
Si kaya bergembira, karena sudah bisa melaksanakan kewajiban, yakni bersedekah & berzakat.
Dalam rilisnya, Pak Kyai Rhoma Irama,”Tak kan susah, karena bersedekah.
Bahkan hartanya akan bertambah tambah. Dan di jauhkan dari bencana
Serta bermanfaat dan penuh barokah, jalinan mesra antar manusia.
Harta benda yang kita simpan.
Itu semua akan kita tinggalkan.
Harta yang kekal di hari kemudian.
Itulah harta yang kita infaq-kan”.
Dengan peduli dan berzakat, bagi yang di pandang mampu.
Memang alangkah indahnya, adalah si kaya mau berbagi pada yang posisinya tingkat kepunyaan harta pada yang rendah sisi ekonomi. Meskipun si fakir itu cerdas berfikir tetapi kurang beruntung. Sangatlah penting untuk di beri jatah.
Karena solidaritas yang tinggi dan memahami keadaan nya itulah, si kaya/si berkecukupan dalam pandangan si dhuafa atau si fakir. Si yang di anggap kaya, untuk melanggengkan hubungan secara emosional, si kaya hendaknya menyisihkan sebagian kecil dari harta kepada Dhuafa/Fakir. Memang fakir itu tidak tampak miskin. Tetapi miskin itu jelas fakir. Karena bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh ampunan dan keberkahan.
Aamiin.
Penulis masih melansir dari yang di Rilis oleh pak kyai Rhoma Irama.” Betapa ruginya orang yang mendewakan
Harta sebagai pelita hidupnya.
Tak terpikirkan akan kuasa Tuhan (Allah SWT). Dalam sekejap semua bisa di hapuskan.
Mungkin berbagai musibah datang silih berganti.
Dan lebih rugi lagi pada orang yang merasa, harta sebagai pembeda harkat manusia.
Si miskin itu di pandang rendah di mata nya. Dan menaruh rasa hormat hanya pada yang dipandang sesama kaya”.
Nauzubillah.
Kalau seruan kebaikan itu, “Bahwa harta yang didapat/dimiliki ada hak orang lain yang meminta minta ataupun yang tidak meminta.
Namun banyak yang berkesimpulan, ku dapat uang/kerja dengan cara kerja keras dan tidak bermalas-malasan.
Hal demikian juga boleh, karena prerogatif ada yang punya harta.
Tetapi takut miskin kah, bila bersedekah ?.
Apalagi Minggu Minggu di bulan Ramadhan mendekati Idul Fitri, Masya Allah… banyak bertebaran yang siap menjadi bagian dari pembuka keberkahan bagi para si kaya, untuk mensucikan harta yang di dalam kurun waktu setahun dari Ramadhan tahun lalu hingga ramadhan dan Syawal di tahun ini.”Ramadhan adalah bulan suci bulan penuh berkah serta penuh ampunan.
Tetapi..ada juga kikir untuk berbagi sebagian kecil.
Jika ada yang demikian, apakah “Dari batu kah hatimu wahai para hartawan.
Sampai hati mu membiarkan ada yang kelaparan”.
Dan di dalam idul Fitri,”Pandai pandailah mengambil hikmah
Hari raya yang mulia
Tingkatkan iman, amal dan taqwa, serta perbuat ukhuwah.
Bikin gembira bikin meriah di hari raya lebaran.
Panjatkan syukur kepada Allah, jangan buka pintu setan.
Minal aidzin Wal Faidzin , Maafkan lahir dan batin.
Dosa dosa yang di sengaja di iedul Fitri mohon maafkan.
Dosa dosa yang tidak sengaja di iedul Fitri, mohon ikhlaskan”.**Team Kreatif skinfosuneta.com.
Sumber;
-Syair lagu nya Al-mukharam Bapak kyai Rhoma Irama.
-Hasil observasi berbagai sumber.






