Bojonegoro I skinfosuneta.com ,- SEORANG Petugas Inseminasi buatan (IB) Kecamatan Gayam, bernama ‘Sugiyanto’ , identik seperti parfum Deodorant “Rexona”, Setia Setiap Saat + Sabar & Santun (S-5).
Tak sengaja pertemuan di bawah Gapura desa Mojodelik kecamatan Gayam, seusei nya ‘Mas Gik’ (sapaan akrab Petugas IB dengan jumlah langganan kisaran 6.000-an sapi, tetapi jumlah babon (betina) tidak ada segitu banyaknya. Itu jumlah keseluruhan lanang, wedok, babon, pedet.”Tugas saya sesuai Tupoksi yakni petugas IB, demikian.Jadi supaya tidak salah sebut – lah. Hehehehe “, cerita singkat dari mas ‘Gik’ yang juga seorang player (pemijat Organ Tunggal/Electone.
Perjalanan karier di dunia ‘Kawin Suntik’ , tergolong karena kecerdasan yang dimiliki. Karena saat kuliah dulu tidak jurusan per-lembu-an, tetapi karena seringnya di ajak/menemani Sosok Pak Bambang Sugeng Wahono (Alm), yang memang nge-pos di rumahnya di Jelu. Bisa mengalihkan cita cita nya dari dunia perkuliahan, yang tak berbasis dunia IB. Termasuk hobby yang juga jadi sumber ekonomi banyak uang selalu ceria berkumpul artis cantik selama sebagai penguasa musik /Electone yang mengiringi artis menyanyi, dan berbusana rapi pakai Jas ‘trendy’. Ditinggalkan semua yang menjadi perhatian para artis dan punya hajat. Setelah sering mengunjungi sapi ‘bengah’ minta di kawin suntik.
Dalam 2 (Dua) Minggu ini, sapi yang ‘bengah’ agak berkurang. Padahal musim hujan, ternyata benar beda jauh. Kalau di analisa secara awam, kalau musim dingin malah terkadang kena razia. Hehehehe.
Tapi menurut mas ‘GIK’ petugas IB yang masuk awal bertugas sebagai Sopir Kepala Dinas Peternakan (Pak Tukiwan), karena mas ‘Gik’ tergolong cepat tanggap, seiring dengan berjalannya waktu, karena punya pengalaman saat sering ikut pak Bambang. Maka sekarang sudah menjadi petugas resmi, maka sudah lihai.
Perihal PMK, mas Gik tidak tahu menahu, karena tugasnya pelayanan IB. “Pada petani/peternak , saya sarankan bila ada tanda tanda PMK, sesegera menghubungi petugas kesehatan. Kalau soal sapi ‘Bengah’ minta ingin bunting, bisa menghubungi saya, secepatnya saya datang, meskipun hujan, untuk kami lakukan suntik IB. Dan karena ada hal PMK, saya sarankan agar tidak ada transaksi membeli maupun menjual Sapi. Karena jika menjual harga bisa murah, bila membeli dapat sapi yang kurang sehat. Begitu mas. Jadi,..kami petugas IB. Seandainya ada yang memberitahu ada gejala sapi sakit, langsung saya sampaikan ke bagian kesehatan/Keswan.
Dari 12 desa di kecamatan Gayam, dengan populasi terbanyak di desa Gayam, Katur, Mojodelik. Demikian, tupoksi saya sebagai petugas IB. Terima kasih”. Ulasan mas ‘Gik’ .
“Pas enek mantri Sapi, Tri..sapine adikku kui majer po bunting . Kog rasido di dol ?”, tanya Mantri hutan/KRPH Gledegan Wulyono.
“Bunting, terahe sapi lemu. Tapi kui bunting”, jawab mas ‘Gik’ yang akan melanjutkan perjalanan, masih ada keluarga pasien sapi yang nanya.***(Eko P -Zulf/red).






