Bojonegoro I skinfosuneta.com ,- BERMULA dari banyak orang yang bercerita tentang penikmat kuliner, bahwa di Rengel Tuban ada warung ‘GODEH PERO’. Akhirnya saya (skinfosuneta.com) bersama rekan media Reportase (H. Ali), pada hari Minggu (3/3/2024), bergegas ingin tahu dan sekaligus ‘icip-icip’ menu “GODEH PERO”.
Sampailah di warung ndeso di Rengel kondang hingga hampir di puncak dataran tinggi Dieng kulone pasar “Rengel”.
Namun apa yang hendak saya katakan, sampai di warung makan yang di awali oleh ‘mbak Sri’ tersebut, sekitar pukul 09.13 WIBB. “Sampun Telas/Sudah Habis”, kata generasi kedua mbak Sri, yakni menantunya yang bernama ‘Ngastini’.
Singkatan apakah GODEH-PERO ?.
Ternyata itu pendek kata dari ‘Sego Lodeh Tempe Loro’ -(Nasi lodeh Tempe goreng nya 2 iris”.
Ngastini menceritakan bahwa ‘Godeh PERO’ itu pun yang memberikan nama adalah Pelanggan dari Baureno Bojonegoro.
“Sayur lodeh berbahan yang ada di desa tersebut, misalnya Tewel, Terong, Labu, Kacang di tetangga yang punya tanduran. Jika sedang tidak musim/tidak ada di kampung, baru turun menuju pasar Rengel yang berjarak sekitar 533 meter. Untuk beras yang harga per kilogramnya paling mahal.
Soal harga Rp.8.000,- sebelum nya Rp. 7.000,- karena harga beras mundhak nya..’zuut..zuut…zut’ maka yang di makan di sini per porsi Rp.8.000,-(sudah termasuk Tempe 2 iris). Kalau mbungkus harga Rp.12.000,- karena sayur nya di bungkus sendiri + 3 tempe. Dan saya pernah di tawari untuk mengikuti acara kuliner di Aloon Aloon Bojonegoro, tapi saya (Ngastini) tidak mau walau hanya nggoreng tempe nya saja. Dan kalau di Aloon Aloon Tuban, pernah.
Ini sehari menghabiskan beras 10 kg/pagi. Mulai pukul 06.30 WIBB Persiapan, jam 07.00 WIB buka, jam 08.00 WIBB sudah habis. Paling tidak siang pukul 08.30 WIBB. Setelah itu beres beres istirahat. Cukup di bantu 2 saudara.
Menurut Tamat saudara mbak Sri, berdiri sejak tahun 1984 . Dan yang memberi ide nama “Godeh Pero” adalah pelanggan yang naik sepeda *onthel* / pancal, dari daerah Kedungadem Bojonegoro. Niki kulo wastani warung Godeh Pero: Sego Lodeh Tempe Loro. Diangget angget kog yo, cocok.
Selanjutnya, kata putra mbak Sri, yang bernama Gunawan. Soal sayur..ya tergantung usume lah, yang mesti Tewel, Labu, Kacang, Terong.”Pangapuntenipun, kulo tilar pados janganan/bakal yang di sayur lodeh. Tewel di tetangga yang punya pohon nangka muda”.
Lebih seru lagi pengakuan kharim (Boos Las Listrik. Menurutnya, sayur Lodeh mbak Sri, tidak membosankan, “Saya tiap pagi sarapan di sini sejak kecil hingga sekarang, dari harga Rp.500,-(Lima ratus rupiah+Kopine -red). Walaupun dekat itu Khan banyak warung makan, lha yang jauh jauh saja banyak yang datang, maka saya tidak keliru punya selera sarapan pagi disini. Hehehehe “.
Menurut warga sekitar Rengel, Duddy Hanura,SH. (Seorang pejabat kecamatan Trucuk kabupaten Bojonegoro -red) , bercerita, pokoknya kalau tidak antri lebih awal yaa suwi. Sebenarnya yaa Cocok, dari rumah saya (Pak Kasi Trantib Trucuk -red), termasuk dataran rendah, liburan dinas, pagi pagi jalan jalan menuju dataran tinggi tinggi Kota Kecamatan Rengel, pas sampai di puncak..lalu sarapan pagi di situ. Hehehehe… cocok..Leh. apa Minggu depan kesini lagi ?”, ajak Kasi Trantib Trucuk dengan penuh keramahan yang juga nunggui tukang di rumah nya yang Megah.
Lha kalau dari Bojonegoro, agar bisa ikut beli berarti harus usei sholat SUBUH, terus antri. Alhamdulillah.. dari ketulusan pelayanan pelanggan walau Penjualan hanya 1 jam -,1,30 menit. Tetapi tidak ada keinginan nambah jumlah masakan nya. Kecuali sudah pesan lebih dulu, seperti langganan dari pemilik toko Besi Varia Logam, biasanya bersama dengan para anak buahnya. Di masak kan lagi.
“Hebaat… ingin mencoba di warung tersebut.. dari Pasar Soko (Tuban) lurus … sampai lampu merah Prapatan Pasar Rengel, Belok ke kiri…350 meter… lurus ikuti jalan ada pertigaan bila ke kanan menuju Semanding, ada pertigaan yang sekiranya 350 meter dari pasar Rengel, belok kiri (samping tikungan ada kuburan), langsung naik sekitar 100 ada banner Warung “GODEH PERO”.***(Eko-Zulf/red)..






