Bojonegoro I skinfosuneta.com,- MESKIPUN Hidup terdaftar sebagai FAKIR, karena memang demikian adanya, usahakan selalu gembira, walau *se-sen* pun uang tak punya.
Itulah *maklumat* guru besar non formal, yakni Sang Guru Besar, yakni Al-Mukharram Romo Kyai Rhoma Irama.
Motivasi untuk tak mengenal istilah *Nelangsa* sungguh *Ter..La…Lu* banyak.
Apa saja itu..?.
“Nasib si miskin berkawan dengan derita, begitu erat seakan tak mau berpisah.
Maut baginya (si Miskin/fakir), terkatung hijau dan mentah
Begitu hidup, mendera tak mengenal iba
iLLAHI jua tempat pertolongan..
Manusia hanya berkata….*kasihan*
Maata…mata yang selalu basah
Bercermin haus nya akan bahagia
Hidup sengsara penuh dengan kemiskinan
Mataaa…mata yang selalu basah
Tak mampu menahan gejolak jiwa
Hati meronta… laksana gelombang karang
Ingin melepaskan semua belenggu rantai Rantai Derita .
Itulah sebuah cerminan nasib seseorang yang sering menerima cobaan hidup, yang tumpang tindih dan silih berganti.
Tetapi apa motivasi dari Sang kyai yang juga Raja Dangdut ?
Motivasi nya adalah,”Adapun derita apapun sengsara, harus lah mencoba untuk selalu tersenyum dan tersenyum terus. Tetapi ingat… lihat/toleh/tengok kanan tengok kiri, depan belakang atas bawah, yakni ketika ingin senyum dalam menghadapi nasib, jangan sampai ada yang tahu, bahwa kita senyum senyum sendiri. Ntar di katain.. *oo-on lhooo* 😁😁🙏🙏
Masih bagian dari wejangan Guru Besar FORSA,”Meskipun kondisi keadaan miskin, tetep jangan bersedih dan jangan menyesali diri. Karena di garis kan oleh Sang Maha Pencipta.
Derajat manusia…di sisi (Tuhan Allah SWT -red), bukan karena kepemilikan harta yang banyak, jabatan yang tinggi, tetapi nilai *TAQWA*.
Dari itu ber-Taqwa-lah meskipun dalam melaksanakan tugas sebagai manusia, dalam kondisi miskin.
Dan berlomba lomba lah dalam upaya pencapaian menjalankan tugas kita, yakni ber- Fasbiqul khairrat”.
Di cela, di hina, orang yang berpunya, cobalah selalu tersenyum dan tersenyum dan tidak usah emosial, yang berbuntut rasa dendam.
Dan kita wajib meninggalkan sikap Dendam. Karena sifatnya dendam adalah tidak ada istilah selesai dalam suatu permasalahan.
Tuntunan berikut nya, adalah:
“Jadi orang jangan pemarah, ada salah sedikit naik darah.
Padahal kalau kita jadi pemarah.. Teman menjadi jauh dan rejeki pun jadi susah.
Lebih baik jadi peramah
Salah sedikit maafkanlah
Kalau kita jadi peramah.. teman banyak rejeki mudah.
*Ingat*….
Banyak ruginya jadi pemarah, musuh berada di mana mana.
Tetapi….
Banyak untungnya jadi peramah, teman berada di mana mana.
Iyaaa Khan ?.
Bersambung…(Refleksi Eko FORSA BOJONEGORO..Eps:2).***(Eko P -Zulf/red).






