Bojonegoro I skinfosuneta.com,– DI Mana bumi dipijak, langit harus di junjung tinggi. Pepatah ini menginspirasi penulis dari media online skinfosuneta.com. Dalam mengemban misi jurnalistik.
Beberapa hari yang lalu, wartawan yang juga FORSA, ini bertandang di kantor desa Sambong kecamatan Ngasem kabupaten Bojonegoro Jawa Timur. Semula dari itu mampir di kantor kecamatan Ngasem, pejabat yang berwenang pun tidak ada di kantor kecamatan, Camat nya di kantor Kabupaten, Sekcam dan Kasi Pem , Kasi PMD juga tugas di desa desa wilayah. Mampir di warung/kantin juga tutup. Alhasil meluncur ke kantor desa Sambong . Yang tersiar kabar Perangkat nya *guyup rukun/raenek iren*.
Sampai juga di Baldes madhep ngetan tersebut. Terbelalak kantor bukaan, tetapi tidak ada satupun perangkat desa. Yang ada hanya 2 orang tamu/warga. Kata warga “Pak Kasun Maskuri, nembe medal ke pak RT”.
Mendapatkan penjelasan itu, wartawan langsung menuju ke rumah kades, ternyata rumah kades Sambong mbah Widjayanto, tutupan rapat. Datang lah mobil siaga, sang pengemudi mengatakan pak Kades ‘Check-up’ kesehatan di Kalitidu.
Lalu ada beberapa perangkat dihubungi via WA, jawab nya rapat di Kecamatan Ngraho, ada yang ke warga dan juga ada yang mengerjakan tugas di rumah (Mbah Bayan Sukarwan), karena WA kantor agak kurang ready alias mendrip mendrip jaringan nya.
Maka penulis kembali ke kantor desa Sambong. Bertemulah dengan kasun Maskuri yang juga kakak kandung kades Sambong Widjayanto yang berputra satu bernama ‘Vicky’.
‘”Maaf..ini piket sendiri, tadi dengan mbah Wan, berhubungan dengan internet Wifi kurang sip, Mbah WAN (,Sukarwan yang berputra 2 Sarjana semua), mengerjakan tugas. Ada yang rapat, ada juga yang keliling ngantarkan undangan untuk yang besok menerima BLT. Niki kulo sambi nggeh, persiapan berkas. Lha pak kades sakit”.
*Kesolid-tan* perangkat desa yang tidak *iren* tetapi peduli demi rasa tanggung jawab sebagai perangkat desa, pantas kita memberikan apresiasi. Karena kita pernah menemukan sosok kasun, *hualah niku tugase kasi, kaur. Lha kasun itu perwilayahan*. Hehehe.
Sementara beberapa warga, memang mendengar kalau pak kades, agak terganggu kesehatan, karena yang mertamu tidak tahu wayah. Kadang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu..terus ngajak ‘jandom/jagong’. Akhirnya darahnya drop. Jane jam istirahat ya istirahat di rumah masing masing, kadang begitulah.
Sampai berita ini tayang, belum ketemu kades yang juga sesepuh organisasi kesenian tradisional. Identik seni Reog Ponorogo. *Semoga lekas sembuh mbah Nggi. Aamiin*.***(Eko-Zulf/red).






