Bojonegoro I skinfosuneta.com,-USEI Tilik tanaman padi, sebut saja namanya Bang Romli (Warga Trucuk RT.08/Suaminya Bu Retno, perangkat desa Trucuk). Dengan santai nya ayem-ayeman, tinggal ngopi dan menunggu waktunya sambil menghitung hari saja.
” Varitas Padaherang dan 69, usianya 110 hari panen. Lha yang varitas 32 promax usianya 85 hari itu yang di tanam pak kasun (pak Budi) Sukri. Wes antri Kombi. Tapi untuk yang padi saya tanam masih menunggu waktu. Alhamdulillah, ijo royo-royo semoga panenan nya besok hasilnya bagus, seperti tahun lalu. Dan tradisi” Wiwit” tetep saya lakukan. Nguri-nguri tradisi, wiwitan tandur-, wiwitan panen. Semua itu sebagai media untuk ikhtiar dan memohon kepada Allah SWT. Namun dengan tradisi dari dulu, sebelum yang kini sudah banyak yang tergerus cara cara modern. Tetapi kami masih melestarikan tradisi itu, yaitu “Wiwit pojok sawah Lor Etan”, Kata Bang Romli.
Lebih lanjut Bang Romli, yang juga stile di dunia Bisnis komoditas pertanian, bahwa bulan lalu pernah kalah di dunia percabaian karena cuaca buruk, diluar prediksi. Sehingga sempat nyonjo 2 kali. Hampir kalah lumayan. Dengan keberhasilan Nyonjo kedua. “Bedanya, kalau lombok itu perawatan nya seperti ngrumat bayi durung umur selapan dini. He..he..he..”. Itulah romantika bertani versi bang Romli, yang sedang memesan mobil pick up, pada bang Ali.**(Eko – Zulfikar/red).






