Bojonegoro (KPH Padangan) I skinfosuneta.com,-DALAM Upaya mempererat silaturahmi sekaligus menyerap aspirasi terkait pengelolaan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat, Administratur Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Padangan menggelar kegiatan audiensi bersama Pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Bojonegoro yang sebelumnya telah bersurat dengan perihal permohonan audiensi dan silaturahmi di KPH Padangan. Pertemuan ini berlangsung pada hari Selasa, 16 September 2026, pukul 10.00 hingga 12.00 WIB bertempat di kantor KPH Padangan.
Kegiatan audiensi ini dihadiri oleh sembilan peserta dari kedua belah pihak. Dari elemen mahasiswa, hadir enam perwakilan PMII Cabang Bojonegoro yang terdiri dari ketua, wakil ketua, serta empat anggotanya. Sementara itu, jajaran KPH Padangan diwakili oleh tiga orang pejabat utama, yakni Administratur KPH Padangan, Wakil Administratur, serta perwakilan dari bidang Komunikasi Perusahaan.
Acara diawali dengan sambutan dari Administratur KPH Padangan, Munawar Santotris, yang menyampaikan ucapan selamat datang serta apresiasinya atas kedatangan para mahasiswa. Beliau menegaskan bahwa audiensi ini merupakan wadah yang sangat baik untuk menjaring aspirasi serta mendiskusikan isu-isu yang berkembang di masyarakat, khususnya yang berkaitan dengan tata kelola kawasan hutan di wilayah Bojonegoro yang berada dalam naungan KPH Padangan.
Dalam pembukaannya, Munawar Santotris menekankan pentingnya pembagian hasil pemanfaatan hutan, baik hasil hutan kayu maupun non-kayu, agar memberikan dampak langsung bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar. Ia menjelaskan bahwa Perum Perhutani sebagai BUMN bertindak mengelola kelestarian hutan dengan prinsip 3P (People, Planet, Profit), yakni memberdayakan masyarakat, menjaga kelestarian lingkungan, dan mengoptimalkan bisnis kehutanan yang berlandaskan prinsip Good Corporate Governance (GCG).
Pada kesempatan yang sama, Ketua Pengurus PMII Cabang Bojonegoro, Anggun Sofia Ardila, menyampaikan rasa terima kasih atas keterbukaan ruang diskusi yang diberikan oleh KPH Padangan. Dalam pameran aspirasinya, Anggun menitikberatkan perhatian pada optimalisasi pemanfaatan hutan desa, hutan adat, dan hutan lindung agar benar-benar mampu menopang perekonomian warga yang selama ini sangat mengandalkan sistem bagi hasil, seraya menanyakan luasan serta jenis hutan yang dikelola oleh KPH Padangan.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Wakil Administratur KPH Padangan, Marwoto, menjelaskan bahwa luas kawasan pengelolaan KPH Padangan saat ini berkurang menjadi 5.128,35 hektar akibat kebijakan Kawasan Hutan dengan Pengelolaan Khusus (KHDPK), yang membatasi Perhutani untuk mengelola kembali kawasan setelah masa daur habis. Marwoto menambahkan Pemanfaatan dibawah tegakan dapat dilakukan dengan menanam tanaman yang tahan terhadap naungan seperti empon-empon, garut, porang dll yg tahan naungan. Jagung, padi, dan berdasarkan pengamatan produksi pisang melimpah dari kawasan hutan bisa diberdayakan dgn hilirasi dengan produksi pisang bisa diolah berbagai macam olahan yg memberikan nilai tambah sehingga peningkatan daya beli masyarakat akan lebih meningkatkan.
Sebagai gambaran potensi ekonomi, Marwoto mencontohkan tanaman jagung di lahan seluas 3 hektar bawah tegakan yang mampu menghasilkan hingga 4 ton jagung, yang bila diasumsikan berharga Rp5.000 per kilogram sudah sangat menguntungkan warga, kemudian dari produksi tebangan dapat menyerap tenaga kerja tahun ini kurang lebih keluasan 7.000 m3 dapat menyerap tenaga kerja sekitar 15 – 20 orang sekali proses penebangan dengan nilai upah untuk masyarakat sebesar 1,3 milyar, belum termasuk kegiatan agroforestry dll.
Seluruh rangkaian diskusi produktif mengenai keberlangsungan pemberdayaan masyarakat pinggir hutan ini kemudian ditutup dengan sesi foto bersama antara jajaran KPH Padangan dan pengurus PMII Cabang Bojonegoro.**(Eko-Adam-Zulf/red).
Sumber : Humas KPH Padangan./(Kom-PHT/Pdg/Aa).






