Ngawi I skinfosuneta.com,-MARI Kita simak, kita renungkan dan kita amalkan. Tausiyah dari Ustadz M.Arifin (Seorang Asper) tepat nya Asper BKPH Kedawak KPH Ngawi DIVRE JATIM.
Alhamdulillah, 22 hari yang lalu baru saja pulang dari Tanah Suci Makkah (menunaikan ibadah Umroh), bahkan sempat bertemu dengan jama’ah Umroh dari KPH Bojonegoro.H.Achmad Yani (Kasi Produksi) & H. Djayadi (Asper BKPH Pradok).
Insya Allah, semuanya ‘Mabrur’.
Aamiin.
Seperti biasanya, disela-sela kami minta konfirmasi tentang pencapaian kinerja sebagai Rimbawan. Beliau (Bapak Ustadz M.Arifin/KPH Ngawi), kami mohon juga sebagai narasumber untuk sumbangsih perihal IMTAQ.
Untuk hari ini, beliau sudah longgar waktu dan berkenan.
Dengan Tema:
“Ibu: Madrasah Pertama Yang Tak Pernah Minta Jam Mengajar*.
Selamat membaca !!!
*1. Secara Ilmiah*
Anak pertama kali belajar dari ibu. Cara bicara, makan, menyapa, sampai mengatur emosi, semua ditiru dari ibu.
Rumah adalah sekolah pertama. Ibu nggak perlu papan tulis atau seragam guru. Pelajarannya masuk lewat kegiatan sehari-hari, bahkan sambil masak di dapur.
Dalam Islam, kedudukan ibu sangat tinggi karena pengorbanannya dimulai sejak anak belum bisa bilang “terima kasih”.
*2. Secara Psikologis*
Ibu adalah tempat pertama anak merasa aman, didengar, dan dicintai. Pelukan, perhatian, dan doa ibu bikin tenang.
Waktu kecil kita lari ke ibu pas jatuh. Pas dewasa, kita lari ke ibu pas hati terluka. Kadang cuma denger suara ibu di telepon aja hati udah lega.
Kasih ibu ibarat Wi-Fi: nggak kelihatan, tapi begitu hilang baru kerasa pentingnya.
*3. Secara Spiritual*
Islam memerintahkan berbakti ke orang tua, terutama ibu.
Allah berfirman:
_“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak…”_
*QS. Al-Isra: 23*
*Rasulullah SAW bersabda:*
Seorang sahabat bertanya: _“Siapa yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?”_
Rasulullah SAW menjawab: _“Ibumu”_. Ditanya lagi _“Kemudian siapa?”_ _“Ibumu”_. Ditanya lagi _“Kemudian siapa?”_ _“Ibumu”_. Ditanya keempat kalinya baru _“Ayahmu”_.
*HR. Bukhari & Muslim*
Jasa ibu terlalu besar untuk dibalas. Makanya hormati omongannya, bantu kerjaannya, jaga perasaannya.
Jangan nunggu hari khusus buat nunjukin sayang ke ibu.
*Kesimpulan:*
Ibu ngajar tanpa pamrih, tiap hari, lewat kasih dan teladan. Karena itu, berbakti ke ibu harus jadi kebiasaan, bukan acara tahunan 🌙🤲.
Dalam syi’ar di Syair nya Al Mukharam Bapak Kyai RHOMA IRAMA and SONETA GROUP. Sebagai berikut:
“Cobalah anda renungkan betapa besar jasa seorang ibu
Semenjak sehingga melahirkanlah seorang putra
Cobalah anda renungkan
Cobalah anda sadari Padanya oh kepada nya
Supaya anda berbakti
Ibumu mempertaruhkan nyawa
Demi anak tercinta
Sungguh anda anak yang durhaka
Bila kepadanya Tak berusaha membalas jasa
Hai manusia.. hormati ibu
Yang melahirkan
Dan yang membedakan mu
Darah dagingmu dari air susunya
Jiwa ragamu dari kasih sayang
Dialah manusia yang satu satunya
Yang menyangimu tanpa ada batasnya
Do’a ibumu di kabulkan Tuhan
Dan kutukan nya jadi kenyataan.
Ridlo illahi karena ridloi seorang ibu
Murka illahi juga murkanya ibu
Bila kau patuh pada rajamu
Lebih patuhlah pada ibumu
Bila kau sayang pada istrimu
Lebih sayanglah pada ibumu.
Tiada yang keramat yang ampuh di dunia
Selain dari do’a ibumu itu jua.**(Eko-Zulf/red).






