Tuban I skinfosuneta.com,-PRIBAHASA nya,”Emas di uji dengan Api, Manusia di Uji Dengan Budi Pekerti. Meskipun Terpendam lama, Intan tidak jua berkaratan”. Sehingga pribadi bagaikan Emas & Intan, meskipun jauh dan lama tidak ketemu. Tatkala ada waktu bisa sambung lagi, maka ibaratnya lagu, Dikaulah Mutiara yang hilang terhalang kesibukan. Ketika bertemu, memori membuka kenangan masa lalu”.
Itulah sudah mengenal lebih dekat dengan Sosok figur Publik yang bernama Yaksim SH.(Kung Yaksim).
Data pribadi yang di dapat oleh penulis (skinfosuneta.com), sebagai berikut:
Nama lengkap cukup singkat: Yaksim, SH.
Kelahiran Tuban kecamatan Singgahan Desa Mergosari.
Beliau tulen Darah Bumi Ronggolawe. Karena Ayahanda nya bernama Suwito (Rengel), ibundanya bernama Muntini (Mergosari Singgahan Tuban).
“Maaf, kedua orang tua Kung Yaksim SH. Tersebut sudah Wafat semuanya. Semoga wafat nya di golongkan wafat yang Husnul khatimah. Alfatihah… Aamiin”.
Kung Yaksim, Lahir tanggal 5-9-1970. Ada berjumlah 9 (Sembilan) bersaudara, namun sekarang (30/4/2026) tinggal 5 bersaudara.
Riwayat Pendidikan:
Lahir di Dusun Mergosari Singgahan Tuban, Sekolah SD di Mergosari.
SMPN I Singgahan, SMAN I Jatirogo. Pendidikan S1 (Unigoro).
karena banyak teman teman nya serta lingkungan hidup nya banyak Rimbawan, akhirnya ter-obsesi, termotivasi untuk menjadi Rimbawan. Lalu tahun 1990 bulan Nopember, masuk Perum perhutani. Sebagai Polhut di RPH Ngelo BKPH Ngolahan KPH Jatirogo.
Tanggal 12 Maret 1993, dengan Bunga Desa bernama Masli’ah anak nya tetangga sebelah. Karena keberadaan nya di lingkungan pesantren, meskipun usia beda 3 tahun tapi ngaji bareng, jamaah Maghrib, Isya’ dan Subuh juga sering bareng.
Akhirnya ibarat dalam pantun cinta bahasa Jawa ‘Tir padha irenge..Siiir padha Senenge”. Sehingga pucuk di cinta Berujung ijab Kabul menjadi pasangan hidup. Dan di karuniai 2 putra.
Bulan Agustus 1995 ikut pendidikan di Pusdik Madiun, dulu istilahnya PNPP (Khusus pemetaan), 1995-1996 lulus tahun 1996 tersebut di tempatkan di biro perencanaan.
Ada yang menarik dan unik di episode 1 (satu) ini, yakni.. Ketika anak pertama lahir… Belum waktunya libur pendidikan. Sehingga, pas selapanan baru tahu anaknya. Akan tetapi, ketika anak sudah tahu meskipun belum sekolah, jika tidak ditawali pendekatan yang lama, anak takut. Dan ikut ibunya. Dengan kondisi seperti itu, ya imbasnya semakin harmonis, karena harus selalu main bersama sama pergi bersama sama. Jikalau ada libur tugas.**
Bersambung ke Episode 2 (dua)….**(Eko-Zulfikar red).






