Bojonegoro I skinfosuneta.com,-REFERENSI Tetap, dari mengambil *Lirik*, dari karya Cipta Al- Mukharam Romo Kyai Rhoma Irama.
Sebagai FORSA, dalam keterikatan *Four-B* diantaranya adalah Berloyalitas.
Implementasi penerapan nya, kalau saya, adalah berusaha bisa melaksanakan/pengamalan dalam bermasyarakat berbangsa bernegara, adalah: menjujung tinggi nilai nilai Hak Azasi manusia.
Hal tersebut sudah di sampaikan oleh Beliau, yakni “Hormati hak azasi manusia
Karena itu fitrah manusia
Kita semua bebas memilih
Jalan hidup yang di sukai
Karena Tuhan pun tidak memaksakan
Apa yang telah hamba-NYA lakukan
Kebebasan berbicara, kebebasan berusaha, kebebasan, tuk berkarya, kebebasan ber- *Agama*..
Kesemuanya itu adalah hak azasi individu.
Kita bebas untuk melakukan segala galanya.
Asalkan saja tidak bertentangan dengan *PANCASILA*
Terapkan Demokrasi Pancasila
Sebagai landasan negara kita
Janganlah suka memperkosa
Kebebasan warga negara
Karena itu bertentangan
Dengan *Perikemanusiaan*.
Adanya edukasi norma yang demikian itu, yakni dilanjutkan beberapa puluh tahun berikutnya, yakni untuk menjaga persatuan dan kesatuan, Beliau berpesan kepada kita, agar..”Jangan suka mencela apalagi menghina..wahai kawan.
Kesalahan berbicara, bisa membawa celaka.
Jangan menebar fitnah di antara sesama wahai kawan..
Jujurlah dalam berbicara, janganlah suka berdusta.. *Berdosaaaaa*
Arahannya selanjutnya adalah:
“Bersihkanlah hati, jangan saling membenci..
Atau berprasangka yang tak pasti.
Saling menghormati itu lebih terpuji
Dengan menanam rasa cita kasih.
Hilangkan rasa iri dan serakah yang menimbulkan kehancuran semata.
Tumbuhkan perilaku budi pekerti mulia
Guna mencapai damai, sejahtera..”
Mengingat kita sebagai makhluk sosial (bermasyarakat), dipesan pula:
“Kalau bicara…baik seadanya, jangan bicara kalau berdusta.
Kalau bicara baik seperti nya, jangan bicara kalau sia-sia.
Karena dari omongan bisa menimbulkan keributan
Karena dari omongan bisa menjadi Permusuhan.
Dan lidah itu bisa merupakan senjata utama utama bagi keselamatan kita
Maka pandai pandailah menjaga, di saat lidahmu berbicara”.
Kita perlu memahami bahwa, dalam dunia ini, bagi yang belum tahu jalan nya, pintu kemudahan masuk nya rejeki untuk kita dapat.
Kita wajib sekedar tahu, bagi kita yang kehidupannya, pas – Pasan seperti saya, (untuk yang perihal rendah rendahan-red).
Agar tidak kemrungsung/iri jika ada teman, tetangga sukses.
Perlu kita sadari bahwa:
“Di dunia ini Sulit mencapai kejayaan (bagi yang mengalami sakit secara Ekonomi) dalam hidup ini.
Dan untuk mempertahankan kejayaan juga lebih sulit lagi.
Tatkala di sekeliling kita terdapat teman/ tetangga yang merasa iri/dengki”.
Adanya hal demikian, Beliau mewanti wanti dengan kalimat ,”Mana budaya kita yang Asli.. kepribadian yang hakiki (kolot/kukuh) beradab, jangan terkontaminasi/ikut-ikut emosian 😁😁😁🙏🙏.
Termasuk orang yang rugi-lah yang tak pernah menunjukkan *KESABARAN*
Kapan itu disampaikan nya, beliau ?.
Itu saya ambil saripati sedikit demi sedikit dari ratusan syair Beliau yang saya hafal.
Bukan bijian, belasan atau puluhan tetapi ratusan syair nya Beliau yang saya hafal.
Setelah saya senang ini/makna lirik tersebut lalu saya implementasi saya saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari, meskipun tidak semua nya. Meskipun saya tergolong orang yang sakit secara Ekonomi.
Sebab, Beliau juga menyampaikan bahwa untuk mengantisipasi agar tidak STREES adalah bagi yang bisa mensyukuri apa adanya.
Refleksi ini, adalah bila kelonggaran waktu, dari pada Ghibah, atau untuk meredakan keras berfikir dengan susahnya mendapatkan tambahan ekonomi di saat paceklik bagi saya di bulan bulan ini.😁😁😁
Meskipun kondisi Derita di Balik Tawa, sebagai konsekwensinya sebagai FORSA yang saya jalani ini, adalah Adapun derita… apapun Sengsara.. selalu ku mencoba Tersenyum dan tersenyum lagi.😁😁🙏🙏🙏
Bersambung…(Refleksi Eko FORSA BOJONEGORO….ke- Eps:4).***(Eko P -Zulf/red).






