Bojonegoro I skinfosuneta.com,- KE-Arifan lokal yang masih berjalan dengan bernilai adat istiadat budaya setempat masih dilakukan oleh Pemdes bersama masyarakat.
Namun tidak serta merta seperti yang dilakukan oleh para pendahulu. Akan tetapi dengan disebutkan dilaksanakan sesuai kearifan lokal, maka lebih praktis, kompetitif namun tidak mengurangi rasa hormat pada adat istiadat leluhur.
Menurut Pj.kades Trucuk Tacuk Prasetyo, SE. seperti halnya Rumah Makam/cungkup mbah Mangunsari, awalnya bangunannya hanya berupa rayonan terpal, maka dengan kearifan lokal pemdes menganggarkan dana bersumber Anggaran Dana Desa (ADD) yang nantinya tidak lagi seperti gubuk. Tetapi di per indah lagi. Karena apapun beliau Almarhum adalah di percaya sebagai nenek moyang pendiri desa Kanten. Adat menghormati kegiatan kirim do’a di area makam. Untuk itu pemdes melalui Musrenbangdes menganggarkan dana untuk pembangunan Phisik berupa Rumah Makam/cungkup mbah Mangunsari.”kemungkinan belum ada terpal, atapnya mungkin genteng, atau rumah adat saat jamannya itu berupa daun lontar atau mungkin jati. Dan berdasarkan kearifan lokal adalah pembaharuan yang bisa menjamin kekhusyukan saat melaksanakan ziarah maupun tahlil, bahkan terkadang ada yang hingga larut malam juga ada yang melantunkan do’a di area ‘makam pepunden/tokoh desa Kanten’.
Sekdes Kanten Mustika, S.Pd.I didampingi kaur Perencanaan Mukhayah juga kasi keuangan Mbah Khoirum, serta semua Kasun, kaur, kasi serta staf . Menambahkan bahwa yang sudah di laksanakan dan sedang dilaksanakan pada hingga tanggal 22 April 2024, adalah sebagai berikut, ‘Sendang Ayu. Sumber dana DD.
Jalan Usaha Tani (JUT) dusun sembung sumber dana DD .
Pavingisasi RT.10 ,sumber dana ADD
Penyelesaian program lanjutan tahun 2023 masuk katagori DPL berupa Rehab jeding/Kamar mandi umum sumber dana ADD.
Rehab plat beton RT.1 , sumber dana ADD.
Dan saat ini tahap pekerjaan selain ‘Sendang Ayu’ tersebut di atas (berita season 1), juga pembangunan rumah makam (cungkup) mbah Mangunsari , dengan sumber dana ADD.
“Kalau yang rumah makam/ cungkup, di bangun. Yang sebagian titik ‘nol’ aslinya/gubuk nya, di roboh di ganti supaya bisa tampak lebih bagus lagi. Kalau situsnya (berupa nisan) yo tetep..Leh.
Harapan nya semoga lebih bagus, indah, tertata rapi dan edipeni serta ngrumboko
Dan untuk kegiatan tahunan yang sesuai adat istiadat adalah ‘manganan/sedekah bumi/nyadran’. Diadakan sesuai dengan perkembangan zaman, di jadikan satu tempat yakni di Balai desa. Sekaligus biasanya ada kegiatan terkait Manganan juga hiburan dan pengajian, yang tidak mengurangi maksud dan tujuan.Yaitu sebagai bentuk ‘Tasyakuran’ atas apa yang sudah di berikan oleh Allah SWT. Kepada kita, sehingga wajib di syukuri, di shodaqohi bumi Kanten ini, supaya warga Kanten selalu mendapatkan kemudahan dalam segala hal yang positif dan keberkahannya. Wes komplit mas”, ulasan Pj. Kades Kanten Tacuk Prasetyo, SE.
Dengan memaknai tata Krama melanggengkan adat istiadat yang ada desa yang dipimpinnya, harapan nya agar desa Kanten menjadi desa yang “Gemah Ripah loh jinawi, kerja Raharja penuh berkah dengan tata kehidupan sehari-hari ayem tenteram, dan barakallah. Yakni Kanten semoga menjadi desa yang ‘Baldatun toyyibatun warabbun ghafur’.
Untuk UMKM, warga bisa jualan berjajar rapi dan selalu ikut menjaga kebersihan. Dan menyesuaikan dengan keterbatasan lokasi. Jika ada minat ingin ikut punya tempat berjualan, ternyata area untuk berjualan tidak cukup, juga bisa sadar. Pancen panggone terbatas. Ulasan Pak Pj.Kades Kanten Tacuk Prasetyo SE. Yang selalu berpositive thinking.
Selanjutnya secara terpisah Camat Trucuk Wiyanto SH.Didampingi Sekcam Drs. H. Saad Mujaddid, sebagai tanggapan pola Pj.Kades Kanten, dalam pelaksanaan tugas dan juga terkait perihal pelestarian adat desa Kanten.
Camat trucuk Wiyanto, SH.Mengatakan,” Kegiatan pelestarian adat dan budaya, merupakan salah satu kewajiban dari Pemdes dan kami berharap, tempat tersebut ke depan bisa di gunakan untuk sarana kegiatan Pramuka, tempat bermain anak anak dan event tertentu yang bisa berdampak pada hal yang bisa meningkatkan perekonomian di desa setempat.**(Eko-Zulf,/red).






