Bojonegoro I skinfosuneta.com, -BANYAK yang bisa dipetik dari hasil bicara rileks dengan mbah Inggih (kades Pancur Kecamatan Temayang) bernama H. Lulus Pujiono, SH.
Alkisah, keramahan dan ketulusan dalam membantu segala urusan warga bila di butuhkan, adalah berprinsip “menanam bakal menuai/nandur mesti ngundhuh”.
Ketulusan menjawab siapa pun yang bertanya via WA maupun bel, juga apa adanya.”Membohongi orang lain, sama halnya menabung kebohongan untuk diri sendiri yang kelak akan ‘ngundhuh wohing parkerti’.
Jangan warga sendiri, orang lain pun sekaligus bila sudah kenal dan ada di nomor HP, maka akan di jawab.
“Kami melayani masyarakat sudah lama, jadi bayan 20 sejak lulus SMA, Lalu di jadi Pj. Kades dan mencalonkan diri sebagai kades. Alhamdulillah berjalan 2 periode. Dan normatif. Kami berbaik dengan warga, bukan berarti kami ingin selalu dipilih untuk menjadi kepala desa, bukan. Akan tetapi suatu saat, anak cucu- buyut- canggah, kelak butuh pertolongan, berharap ‘mugo-mugo’ dapat pertolongan. Dan kami, berkesempatan untuk melaksanakan amanah, maka ingat dawuh ‘tutur tinular’ para sesepuh, “Weneh-ono teken/tongkat marang uwong mlaku ing dalan lunyu (licin), Weneh-ono lampu ing dalan lunyu kang peteng, weneh ono bagian rejeki marang uwong liya yen pancen ana luwihan”.
Nuruti kurang mesti tansah kurang, lha suk kapan iso derma weweh/peparing”.
“Pak Lulus Pujiono” , dawuh pangandikane sangat layak menjadi tauladan kita yang berkenan. Tampil pribadi yang santun, sederhana nanging ngatasi kewajiban sebagai pemimpin desa. Mboten riya’ mboten ujub, kawit dados Bayan sampun biasa sedekah “, cerita warga yang tidak mau disebutkan namanya.
“Istri (bu kades/ketua PKK) Pancur, sudah saya pesan, jika ada tamu, kalau memang kami ada, katakan ada. Jika saya pergi yaa suruh mengatakan pergi. Sehingga hal kecil itu bisa jadi muara apapun, Kalau dibiasakan untuk berbohong. Contoh nya kurang terjalin Silaturahmi”, ungkap Pak H. Lulus dengan tulus.
Sepulang dari audensi rileks, karena beliau repot nunggu tenaga yang akan ngusung molen untuk TPT kanan kiri sepanjang 200 meter/sisi.
“Alhamdulillah… yang punya galeng/pematang yang awalnya galeng untuk jalan setapak, setelah cerita punya cerita perihal jariyah untuk sebuah pembuatan jalan. Alhasil, warga sadar kini lebarnya menjadi 300 cm.”Termasuk pengerjaan proyek desa, semua dari Musdes skala prioritas utama, jika ada lebih dana untuk di peruntukan yang lain maupun program perencanaan jika program utama terselesaikan. Dan jika ada warga yang ingin tahu program yang di jalankan bisa lihat di banner terpampang besar di halaman kantor desa. Atau bertanya langsung di kantor desa, mekaten mas. Pokoknya fatwa yang selain dari yang kami sepuhkan (guru ngaji saya) juga lagu lagu dari pak haji Rhoma Irama, mas. Yakni, “jangan mentang-mentang punya, jangan mentang-mentang kuasa”. Lalu..”Hei berbuatlah apa yang anda suka, tapi ingat semua itu. Akan ada balasannya. Baik maupun jahat, lurus maupun sesat, semua akan kembali pada diri kita”.
Juga,”kalau sudah ada kemudi, mudah mengarahkannya. Kalau sudah mengenal diri, mudah untuk merubah sikap kita”.
Ada lagi..*Harta benda yang kita simpan, itu semua akan kita tinggalkan. Harta yang kekal di hari kemudian, itulah harta yang kita infaq-kan.
Sekali lagi…do’a kami, kelak pingin punya cerita untuk di dengar anak cucu, kelak jika sudah tidak lagi menjabat. Begitulah. Bukan pingin di “waah”. Ulasan nya mbah Inggi Pancur H. Lulus Pujiono,SH.
“Niat kami menayangkan karena sebuah apresiasi, karena ketulusan, dan kami ter-inspirasi dari mendengarkan lagu juga, bahwa ” Kebaikan perlu selalu di serukan. Tak akan susah karena bersedekah. Bahkan hartanya akan bertambah. Bermanfaat dan semoga penuh barokah, menjadi jalinan mesra antar sesama manusia”, imbuh nya Eko.**(Zulf/red).






