Bojonegoro I skinfosuneta.com,– GUYUB Rukun warga desa Sambong kecamatan Ngasem yang di pimpin oleh seorang kepala desa bernama Widjayanto, sangat tampak. Gotong royong masih berlaku, yang di beri nama *Sambatan/Sayan* masih berlaku.
Dan sekali masuk desa Sambong, tentu akan merasakan keramahan penduduk pada orang lain yang sedang singgah sebatas *ngopi* apalagi sambil bercerita tentang apapun yang sekiranya menghibur.
Warga Sambong *titen* ki mase sing dek biyen rawani mulih, minta tolong diantar *Mbah WAN/Sukarwan* ditinggal balik dalan. Hhhhhhhhh..
*Mbah Wan* niku nggih jirek/ajrih kalihan *memedi* kog Panjenengan suwuni tulung *ngeteraken* Panjenengan kundur to pak – eko – pak Eko.
Kata mbah bayan *IM*.
Masyarakat desa Sambong mayoritas petani, tetapi walau satu desa yang mengerjakan sawah tidak bisa bersama sama. Karena dapat nya air untuk mengerjakan sawah tidak sama. Ada yang sudah dapat hujan dan bisa *tandur*, namun ada yang belum bisa membajak sawah. Dan juga ada yang bisa mengairi sawahnya dengan menyedot air dari sungai.
Termasuk ada beberapa sawah nya perangkat desa yang paling terlambat adalah sawah nya *Mbah Kasun/pak wo* kakaknya kades sambong, yang lainnya beberapa Minggu lalu sudah bisa bikin teban pinihan, sawah nya *pak wo* masih *mbero*.
Sedangkan mbah bayan Sukarwan.. wajahnya ada air hujan lumayan, sawah samping nya sudah bisa ditanami, sementara winehnya mbah Wan tidak bisa di *daut* karena masih kecil.
Begitu terjadi *pethatan* /tidak ada hujan 2 Minggu lebih, mbah Wan juga agak prihatin.
Alhamdulillah kemarin semua sudah bisa bertanam semua. Termasuk Pak Sekdes, Juga para kasi dan kaur. Serta para warga yang punya lahan.
“Alhamdulillah…wes longgar wes podho tanam. Saiki wes bisa jagong Loos nok warung lontong kidule Baldes utawa nok ngarepe omahe mbak Yun (kantin kantor kecamatan Ngasem)”, kata Mbah Bayan, sang menantu Pengrajin Tape Singkong *Legendaris* mbah
Mukirah.
Karena tidak terasa saking asyiknya bergurau dengan warga desa Sambong yang ramah. Tahu tahu sudah pukul 17.20 WIBB. Suasana masih padang jingglang, tetapi saya (penulis) berpamitan, ternyata sampai Bojonegoro sudah usei Maghrib.
Sepertinya jarak tempuh jauh tidak terasa, tergiur asyik. Padahal jauh.
Terima kasih atas berkenannya perangkat desa Sambong dan Warga nya yang ramah penuh kesan kesan positif. “Guyup rukun dan damai”.**(Eko-Zulf/red).






