Praktik Pengelolaan Sampah Untuk Menambah Penghasilan Rumah Tangga. Inovasi Warga Desa Trucuk, Menumbuhkan Antusias.

IMG 20260218 WA0018

Bojonegoro I skinfosuneta.com,- INOVASI Warga Desa Trucuk tampak Menumbuhkan antusias mengikuti praktik pemilahan dan pengelolaan sampah yang digelar di Desa Trucuk, kemarin Selasa (17/2/2026).

Kegiatan ini adalah bagian dari gerakan bersama pengelolaan sampah dan penerapan perilaku hidup bersih (Gerbang Sapu Bersih) di Desa Trucuk.

Bacaan Lainnya

Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Desa Trucuk, Sunoko,S.Sos.SH.NL.P. Para perangkat desa, pengurus bank sampah, tim Alas Institute, serta warga masyarakat.

Kades Trucuk, tersebut yang mendampingi secara langsung, menyampaikan apresiasi atas adanya keterlibatan aktif warga.

Menurutnya, pengelolaan sampah tidak hanya berdampak pada kebersihan lingkungan, tetapi juga dapat menjadi peluang tambahan penghasilan bagi keluarga.

“Melalui pemilahan sampah dari rumah, warga bisa memisahkan sampah organik dan an-organik. Sampah an-organik yang memiliki nilai jual dapat dikumpulkan dan dijual,” ujarnya.

IMG 20260218 WA0017

 

 

Dalam kegiatan praktik tersebut, warga diajarkan cara memilah sampah rumah tangga, serta mengidentifikasi jenis sampah an-organik yang memiliki nilai jual.

Praktik dilakukan secara langsung dengan melibatkan ibu-ibu rumah tangga dan pengurus bank sampah setempat.

Warga berbondong bondong membawa sampah rumah tangga yang telah dipilah dari rumah masing-masing. Sampah anorganik seperti botol plastik, kardus, dan kertas, besi, dan lainnya, dikemas rapi dalam karung,

Se-sampainya di lokasi, sampah yang telah dipilah kemudian ditimbang satu per satu oleh pengurus bank sampah desa.

Hasil timbangan dicatat secara rinci sesuai jenis sampah yang disetorkan.

Nilai ekonominya selanjutnya dihitung dan dimasukkan ke dalam buku tabungan masing-masing warga.

Sistem tersebut membuat warga semakin termotivasi karena sampah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai kini tercatat sebagai tabungan yang dapat dicairkan pada waktu tertentu.

Selain menciptakan lingkungan yang lebih bersih, kegiatan ini juga menumbuhkan kebiasaan menabung melalui pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

Salah satu warga, Badi’, mengaku senang dengan adanya kegiatan ini. Menurutnya, selama ini sampah rumah tangga hanya dibuang tanpa dipilah.

“Kalau bisa dikelola dan ada hasilnya untuk tambahan belanja, tentu kami sangat terbantu. Selain itu lingkungan juga jadi lebih bersih,” ujar Badi’.

Sementara itu, Achmad Danial Abidin perwakilan Alas Institute menjelaskan bahwa praktik ini merupakan langkah awal membangun kesadaran kolektif masyarakat.
Ia (ia)menekankan pentingnya perubahan perilaku dalam mengelola sampah sejak dari sumbernya.

“Kami ingin mendorong gerakan bersama agar pengelolaan sampah tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi menjadi kebiasaan sehari-hari. kegiatan seperti ini dampaknya bukan hanya lingkungan bersih, tetapi juga ada nilai ekonomi yang bisa dirasakan warga,” katanya.

Kegiatan ini diharapkan menjadi pemicu terbentuknya sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Desa Trucuk.

 

Pemerintah desa bersama Alas Institute berkomitmen untuk melakukan pendampingan lanjutan agar gerakan pengelolaan sampah dan perilaku hidup bersih dapat berjalan secara berkelanjutan.

Sumber : Up.Warta**(Eko-Zulf/red).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *