Bojonegoro I skinfosuneta.com, MESKIPUN Awalnya kawasan pertanian kecamatan Malo adalah di sebut Endemik ‘Tikus’, kini sudah berangsur kurang.
Berikut penuturan Koorluh BPP Malo, Nina Nila Abida, SP. Didampingi staf nya, diantaranya:
Imam Rumpoko, Hafid Anugraha, Akmal Fajri, Gardenia Rizky A. Nur Halimah, Siska Watiningsih, Adina Rahma A. Vania Dewi Maharani, Siti Inayah, Ridlo, dijelaskan bahwa: Untuk Lahan pertanian di kecamatan Malo, ada 2 jenis hama yang sangat di waspadai yakni Tikus dan Pendereg batang padi.
Akan tetapi, karena terbangun sinergy antara petugas BPP – Poktan (petani), maka bisa teratasi meskipun belum full.
(Maaf..ini kesimpulan Audensi skinfosuneta.com, dengan 3 nara sumber BPP Malo (Koorluh ( Nina)-Imam-Akmal).
“Setiap ada permasalahan, petani menghubungi petugas yang punya wilayah. 1 PPL membawahi 2 desa. Lalu petugas dengan sigap bergerak, untuk menentukan langkah bagaimana pencegahan nya.
Dan pendirian rumah burung hantu, adalah Swadaya petani. Ternyata Rumah Burung Hantu tersebut efektif untuk mengendalikan hama yang di sebut *Tikus*.
“Kami adakan tiap Jum’at pagi jika tidak ada laporan petani, tentang Upaya untuk mendapatkan solusi, guna pencegahan hama. Kami tiap hari Jum’at melakukan evaluasi pekerjaan. Dan kami selalu update informasi, termasuk petani juga canggih update terkait pertanian. Itulah terbangun sinergy dan bisa mengurangi serangan hama”.
Di wilayah Malo, lahan pertanian seluas 2.300-an hektar (Sawah), 1150 -an hektar lahan kering/tegalan. Dengan total produksi jagung maupun padi tipis selisih, 5,5-6 ton jenis Jagung. 6,5-7 ton untuk padi.
Untuk tanaman katagori Agro, di wilayah kecamatan Malo, yakni Alpukat, Anggur, Jambu Air, Pepaya California. Dengan menggunakan pupuk organik.
Petani di Malo tidak ada yang menggunakan perangkap tikus dengan stroman listrik.
“Dengan demikian, kita bersinergi, taat pada aturan untuk keselamatan bersama. Kami selalu Memupuk Kebersamaan Dengan Poktan serta instansi terkait di bidang pertanian”.Tandas Bu Nina.**(Eko-Lia-Zulf/red).






