Tradisi Selametan Di Tiap Perempatan Saat Tanggal 1 Suro/1 Muharram.

Img 20250627 Wa0053

Bojonegoro I skinfosuneta.com,-ADAT atau Tradisi Punggawa Desa beserta Warga Desa Jono kecamatan Temayang, di setiap Pergantian tahun baru Hijriyah atau tahun baru Islam 1447 Hijriyah , di maknai tersendiri oleh Orang Jawa dengan sebutan Suronan .

Sasi SURO atau kalender Islam bulan Muharram merupakan bulan yang di sakralkan oleh Orang Jawa .
Bahkan dalam menyambut bulan SURO tersebut masyarakat dalam hal ini kita membahas desa Jono, menyambutnya dengan tradisi ” Bancaan ” ( kenduri ) di tiap – tiap perempatan di dalam desanya .
Yakni di

Bacaan Lainnya

Kegiatan ” Bancaan Suro ” kali ini tak luput di lakukan masyarakat desa Jono kecamatan Temayang di lima tempat sekaligus di perempatan dalam desanya ( masing – masing dusun ) pada , 27 / 06 / 2025 sore hari menjelang Maghrib .

Masyarakat berbondong – bondong menuju lokasi yang biasa di gunakan untuk kenduri pada tiap tahunnya . Aneka makanan dan minuman juga kue – kue spesial Mereka bawa untuk di makan bersama – sama.

Img 20250627 Wa0052

Salah satu Kasun di desa Jono Gimun kepada awak media ini menuturkan bahwa setiap setahun sekali pada malam satu SURO menjelang Maghrib masyarakat desa selalu melakukan ritual berupa ” Bancaan ” untuk menjauhkan segala balak dan musibah atau bencana .

Tradisi seperti ini sudah turun temurun di lakulan karena ini adalah adatnya orang Jawa . Dengan rasa kebersamaan seperti ini sudah barang tentu akan mewujudkan rasa persatuan dan kesatuan antar sesama masyarakat dan warga .

Banyak sesaji dan aneka makanan yang bisa di nikmati bersama , ini adalah bukti kerukunan dan kegotong royongan terasa masih kental dan patut Kita apreasiasi .

Saya berharap para generasi muda untuk selalu menjaga tradisi ini supaya tidak terkikis oleh modernisasi dengan meninggalkan tata krama adat ketimuran atau adat Jawa yang patut kita jaga dan lestarikan ” harapnya .

Hadir pada acara ” bancaan ” Suro Agung , Kepala desa Jono beserta keluarga , Perangkat desa Jono , seluruh elemen masyarakat desa dan juga sesepuh desa Jono , tokoh adat dan tokoh Agama . – Pergantian tahun baru Hijriyah atau tahun baru Islam 1447 Hijriyah , di maknai tersendiri oleh Orang Jawa dengan sebutan Suronan . Bulan SURO atau kalender Islam bulan Muharram merupakan bulan yang di sakralkan oleh Orang Jawa . Bahkan dalam menyambut bulan SURO tersebut masyarakat menyambutnya dengan tradisi ” Bancaan ” ( kenduri ) di tiap – tiap perempatan di dalam desanya . Yakni perempatan Nguncaran, kajangan, Jono Krajan,Babrik, Ngabar.

Kegiatan ” Bancaan Suro ” kali ini tak luput di lakukan masyarakat desa Jono kecamatan Temayang di lima tempat sekaligus di perempatan dalam desanya ( masing – masing dusun ) pada , 27 / 06 / 2025 sore hari menjelang Maghrib .

Masyarakat berbondong – bondong menuju lokasi yang biasa di gunakan untuk kenduri pada tiap tahunnya . Aneka makanan dan minuman juga kue – kue spesial Mereka bawa untuk di makan bersama – sama.

Salah satu Kasun di desa Jono Gimun kepada awak media ini menuturkan bahwa setiap setahun sekali pada malam satu SURO menjelang Maghrib masyarakat desa selalu melakukan ritual berupa ” Bancaan ” untuk menjauhkan segala balak dan musibah atau bencana .

Tradisi seperti ini sudah turun temurun di lakulan karena ini adalah adatnya orang Jawa . Dengan rasa kebersamaan seperti ini sudah barang tentu akan mewujudkan rasa persatuan dan kesatuan antar sesama masyarakat dan warga .

Banyak sesaji dan aneka makanan yang bisa di nikmati bersama , ini adalah bukti kerukunan dan kegotong royongan terasa masih kental dan patut Kita apreasiasi .

Saya berharap para generasi muda untuk selalu menjaga tradisi ini supaya tidak terkikis oleh modernisasi dengan meninggalkan tata krama adat ketimuran atau adat Jawa yang patut kita jaga dan lestarikan ” harapnya .”Memang sengaja di masing-masing perempatan jalan yang berada di desa Jono. Karena bila di sentralkan di perempatan Pasar desa Jono ini, sudah pasti mengganggu Akses Lalu lintas Bojonegoro-Nganjuk, tetep kita mikir segi keamanan dan kenyamanan warga di saat berlangsungnya acara ini, supaya di ikuti dengan khidmat. Demikian, dan ini sudah jadi kesepakatan bersama “, ulasan Kades Jono Hj. Henis Meindrawati, S.Pd.

Sedangkan tokoh warga H.Salim (Abbah Salim-red), menambahkan untuk yang ingin ikut Bancaan siapa pun Monggo, pasti kebagian. Masalahnya ambenge besar besar dan meskipun maaf ayam nya ada yang tidak utuh, so pasti Ayam satu di potongi. Tapi yaa tetep waspada karena pinggir jalan raya, makanya kita memilih yang jurusan dari perempatan arah Balai/Kantor desa”.

Hadir pada acara ” bancaan ” Suro Agung , Kepala desa Jono beserta keluarga , Perangkat desa Jono , seluruh elemen masyarakat desa dan juga sesepuh desa Jono , tokoh adat mbah Gunadi dan tokoh Agama** ( Eko-Zulf/ red ).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *