Bojonegoro I skinfosuneta.com, – Hingga kemarin (12/2/2023), BKPH Celangap KPH Bojonegoro, masih berfokus pada tanaman 2023 dan penyulaman tanaman tahun 2022. Termasuk penanganan hama baru pada bibit kayu putih akibat dari ulah *Cacing nggragas*.
“Ini untuk BKPH Celangap tahun ini tanaman di 2 RPH (Sawit Rejo + Sendanggerong) dari 4 RPH , luasnya 178, 35 hektar (ha) terdiri dari Kayu putih (105,88 ha) + Jati (72,47 ha). Penanaman tahun ini dan penyulaman 2022. Di tahun 2024 menyelesaikan program penanaman tahun 2023 . Tahun nya sudah 2024 akan tetapi melanjutkan tanaman tahun program 2023. Terjadi kemunduran karena faktor alam yakni cuaca hujan turun yang bisa di laksanakan penanaman pada bulan Januari 2024. “Ngrumat tanaman kayu putih, seperti ngrumat bayi yang masih di inkubator yang belum bisa disusui ibunya. Selain rumit sekarang bibit di persemaian muncul hama baru yakni *Cacing nggragas*. Modusnya jika kandungan *hara* tanah habis, maka cacing tersebut *nyesep/menghisap* akar plances, akar menjadi kering dan bibit layu. Ini kami mengamati dari bibir yang layu, ketika kami cabut..lha kog cacing nya kathing grandul. Lhooooh… Jan-jane ini gimana, hukum alam jika tanah ini di sukai cacing berarti subur. Lha kog tanaman malah mati”, Ungkapan Asper BKPH Celangap H. Lugianto di dampingi KRPH Sendanggerong Jatomo.
“Untuk keamanan adalah kegiatan rutin dan sesuai mekanis yang sudah berjalan. Sedangkan produksi karena SPK belum turun, maka belum bisa kami sebutkan walau RRT sudah terdengar *sayup-sayup*, namun SPK belum turun sampai hari ini. Mungkin BKPH Lain sudah berjalan tebangan nya, tetapi BKPH Celangap yang rencananya tebangan ‘B’. Sehingga sebagai kesibukan saat ini, pengamanan hutan, penanaman dan penyulaman. Untuk tanaman tahun ini dari 2 RPH yang luas RPH Sendanggerong. Dengan pak KRPH Muda, cekatan, Sat-Set , pak Jatomo. Alumni Mandor BKPH Bareng yang pernah meraih juara 1 mandor tanam terbaik. Dan sekarang tanggung jawabnya di satu musim ini menyelesaikan 135-an hektar. Dan tinggal sedikit lagi selesai. Untuk jenis tanaman kayu putih, bisa jadi sulaman 3-4 X. Karena seumpama hari ini di tanam selanjutnya 5 hari kog tidak kehujanan blas. Ya kering dan mati.”, lanjut Asper Alumni PMK angkatan ke 8.(H. Lugianto).
Adm KPH Bojonegoro Ir. H. Slamet Juwanto, di dampingi 2 Waka (Wawan + Heva), S. Hut. Dan KSS Humas Sunyoto,SH. Menandaskan bahwa untuk musim tanam program tanaman 2023 berlaku mundul dari tata waktu/yang di Agenda-kan. Penyebabnya adalah *cuaca* /faktor alam. Dan sebab memberlakukan ‘pethatan’ 2 kali. Karena faktor hujan turun yang tidak memungkinkan untuk melakukan penanaman.”Untuk sangsi atas keterlambatannya, tetapi bila cuaca yang sudah memungkinkan untuk menanam. Agar dan harus segeralah melakukan dan menyelesaikan. Sehingga pekerjaan yang lainnya juga berjalan”, Ulasan Pejabat nomor satu di jajaran KPH Bojonegoro, dengan Bijaksana.
(Bersambung BKPH lainnya, tentang kisah kisah kemunduran jadwalnya Penanaman……).***(Eko-Zulf/red).






