Bojonegoro I skinfosuneta.com,– KONSEP Perum Perhutani sudah mengalami perubahan yang signifikan. Betapa tidak ?!.
Ketika saya masih kecil, bapak saya hanya seorang ‘Mandor’ ketika di panggil oleh Mantri (KRPH) sudah banyak mikir, ada apa..yaa. belum lagi di pesan oleh ‘Sinder’ /Asper/KBKPH. Belum lagi jika di pesankan pada orang lain, besuk menghadap pak Ajun (Wakil Adm-red). Hadeeeh, pasti latihan dari rumah, perihal adab dan tata Krama. Karena takut salah perilaku saat menghadap.
Dengan suasa identik “Tradisi kerajaan Belanda”. Saya pun kena dampak yang berbuntut positif. Yakni belajar dan mengingat “Tata Krama”.
Dan Bapak ku selalu berpesan, ingat ‘Tata Krama’ kalau Sinder/Asper ke atas sudah derajat ‘Bendara/Ndoro’. Maka saat menghadap harus lebih halus untuk saat matur.
Dan orang tua saya agak sedikit berani tidak harus merunduk yakni ketika Asper BKPH Tengger mbah *Lawar*. Bila tidak ada anak buah yang lain, bapak saya ( Sadijo (Alm) pensiun Tahun 2003, wafat 2020. WAberani ngobrol dengan Pak Asper, dengan tampil biasa. Ternyata saya tanya..” Bapak kalau dengan Mbah Asper *Lawar* kog berani biasa jika ada orang lain ?”.
Mbah Lawar , itu daftar nya di Perhutani *Bareng*. Cuma nasib berbeda.
Maka saya pun berhubungan dengan profesi secara kebetulan jadi Wartawan di SKM “BINA” , saya pun awalnya Canggung. Karena yang saya lakukan wawancara adalah Kelas ADM/Pimpinan tertinggi di Tingkat KPH. Para Ajun, Para Sinder/KBKPH. Kalau mengingat masa lalu, ajaran orang tua seorang Mandor. Tetapi ketika saya dianggap nya kog selalu sesuai etika “unggah ungguh” yang mungkin lain dari yang lain. Akhirnya saya cerita..maaf nDAN..*”BALADA ANAK SANG MANDOR”*.
Tetapi sekarang suasana sudah berubah. Mandor, Mantri bisa ‘ngopi’ bareng bersama pak Ajun/Waka Adm.
Contohnya Waka Adm KPH Bojonegoro Wawan Gunawan, S.Hut. sangat Familiar dengan bawahan.
Termasuk sekarang Adm berkenan langsung komunikasi dengan mandor. Suatu kemajuan untuk bersama sama lebih baik lagi kinerja dan hubungan secara emosional.
Walaupun demikian.. ingat, ” jangan sampai di kasih hati ingin nya di kasih kan juga ampela.
Yakni adab budi pekerti tetap jangan sampai ‘nglamak’. Walaupun posisi identik “Duduk sama rendah.. berdiri sama tinggi”.
Namun jabatan beda, ” Tetep dan harus bisa memposisikan diri. Walaupun di persilahkan untuk duduk berjajar.
Dengan tanpa batas, jadi strategi nya saat pak Waka memberikan himbauan/pengarahan, kepada anggota (bawahan). Itu nilai yang mahal. Maka perhatikanlah untuk bisa di laksanakan dengan baik.
Menurut Waka Adm KPH Bojonegoro Wawan Gunawan, S. Hut.” Jadi perubahan System itu, adalah menyesuaikan kondisi sekarang ini. Dan juga menyesuaikan bawahan yang kita ajak bicara. Dengan kondisi sekarang ini, cara berkomunikasi dengan bawahan pun harus banyak kita *mendengar* apa yang mereka sampaikan. Supaya kita sebagai pimpinan bisa lebih faham tentang kesulitan kesulitan mereka. Dan cara kita bicara pun, sebisa mungkin jangan sampai bawahan jadi merasa gugup/grogi.
Agar mereka sampaikan benar benar dari hati”.
Sekedar saling berbagi cerita.
Salam Rimbawan Tangguh dengan Dedikasi yang tinggi.
“Terima kasih Pak Waka Wawan Gunawan, S.Hut. Atas pencerahan nya.**(Eko-Zulf/ red).






